Jumat, 31 Oktober 2014

PERJALANAN PANJANG BLITAR HOLLAND

Sinopsis Novel "RINDU" Tere Liye


Setiap orang hadir di dunia membawa satu pertanyaan besar di hidupnya. Pertanyaan yang kadang menetap ditempat yang sama, tak pernah beranjak, tak ada jawaban. Pertanyaan yang kadang membuat diri layaknya patung, hanya menatap kosong hamparan samudra luas, tapi tabiatnya sebuah jalan buntu selalu saja ada jalan keluar. Setiap pertanyaan selalu berakhir dengan sebuah jawaban, meski terkadang kehidupan mengajarkan untuk tidak melihat sesuatu dari satu sisi. Boleh jadi ada banyak jawaban yang masih tersimpan rapi dari sisi-sisi lainnya, menunggu kita menemukannya. Bahkan tak jarang jawaban itu berkeliaran diseliling kita. Di kapal  Blitar Holland inilah Bonda Upe, Daeng Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng dan Gurutta membawa pertanyaan besar di hidup mereka.
Terkadang menemukan dan kehilangan merupakan bentuk suatu jawaban atau bahkan pertanyaan. Mungkin dalam hal lain dua komponen ini bertukar peran, terkadang kehilangan merupakan sebuah jawaban dan menemukan adalah pertanyaannya atau malah sebaliknya. Seperti yang dirasakan oleh Mbah Kakung setelah kehilangan kekasih hatinya Mbah Putri yang telah membersamainya selama 60 tahun. Siapa yang mengira pasangan sepuh Mbah Kakung dan Mbah Putri tersebut akan terpisah sebelum sampai di tanah suci, setelah seluruh penumpang kapal Blitar Holland, para kelasi, kapten Philips dan dua kakak beradik –anna dan elsa- yang selalu membuat ramai langit-langit kapal saat jam makan tiba itu tahu kalo pasagan sepuh Mbah Kakung dan Mbah Putri adalah pasangan paling romatis yang mereka temui. Saat tiba di pelabuhan Bengkulu, pasagan sepuh tersebut turun untuk melihat lebih dekat betapa indahnya pasir putih yang berada disekitar pelabuhan bengkulu. Mbah kakung dan Mbah Putri mejadi tontonan setiap penumpang yang turun dari kapal dan penduduk asli begkulu. Bagaiamana tidak, Mbah kakung dengan mesranya memegang tangan Mbah putri tanpa menghiraukan orang-orang yang tersenyum haru melihat kemesraan pasangan sepuh tersebut.
Pun rindu sering sekali mengambil peran diantara menemukan dan kehilangan. Ketika Ambo, kelasi berkulit hitam mencoba mendustakan kenyataan dengan pergi sejauh mungkin dari kisah cintanya yang tak berujung kepastian, tapi bagaimana mungkin ia akan mendustakan perasaannya sedangkan kenangan masalalu masih setia menghampiri. Bahkan setelah ia disibukkan dengan pekerjaan di kapal Blittar Holland, Ambo si kelasi kulit hitam itu tetap saja setia duduk menatap kosong lautan lepas lewat jendela bundar kamarnya, berharap ada sebuah jawaban. Kesibukan memang tak dapat membuatnya pergi jauh dari kisah cintanya yang seharusnya indah, tak menuntut apa-apa selain cinta itu sendiri. Bahkan rasa itu malah semakin menghantuinya, membuat ia tega menyakiti dirinya sendiri.  
Memaafkan terasa menyakitkan disaat Daeng Andipati tahu masa lalu tak pernah sebaik yang ia diharapkan, meninggalkan goresan-goresan luka yang terkadang muncul menyesakkan. Disaat ia melihat ibunya orang yang paling ia cintai dipukul oleh ayahnya sendiri, bahkan kakak-kakaknya yang tidak tahan lagi dengan perlakuan ayahnya, satu persatu pergi. Ntah apa yang membuat ibunya bertahan dengan ayahnya yang kejam, apakah cinta atau kesetian, Daeng Andipati seakan tak ingin tau. Kebencian merasuk begitu dalam pada diri Daeng Andipati.
Begitupun Disaat kesalahan masalalu yang seharusnya tertinggal jauh, terpudarkan waktu dan termaafkan, nyatanya setia mengawasi Bonda Upe membuat bayang-bayang ketakutan, menjadikan ia perempuan paruh baya yang pediam dan lebih banyak mengurung diri di kabin. Bertemu dengan teman lamanya saat di Macao Po membuat Bonda Upe lebih banyak mengurung diri dari biasanya. Menangis dan terus menangis menyesali kesalahan masalalunya. Berhari-hari ia mengurung diri dan menangis ditemani suaminya yang mencoba menenangkan, tanpa ia sadar berhari-hari itu pula, Anna murid yang paling ia sayangi, mencoba mengartikan sendiri kejadian apa yang telah menimpa guru mengajinya tersebut.
Bahkan terlalu sering diri sendiri tak pernah menemukan jawaban atas pertanyaannya. Malah sebaliknya mendustakan pertanyaan tersebut, mencari jalan lain. Seperti saat Gurutta dengan bijaknya memberikan jawaban atas pertanyaan seseorang tentang hidup mereka. tapi ia malah terjebak dengan pertanyaannya sendiri, tak bisa menjawab.
Tapi kisah mereka takkan pernah sempurna tanpa kehadiran dua orang putri Daeng Andipati –Anna dan Elsa- yang selalu membuat ramai langit-langit kapal dengan kecerian mereka saat jam makan tiba. Anna yang selalu riang menyapa Ambo Uleng dengan panggilan om kelasi, Elsa yang selalu saja menyikut lengan Anna kalau sudah mulai banyak bertanya. Bahkan kapal Blitar Holland pun takkan pernah memiliki kisah tersendiri tanpa ada Anna dan Elsa yang akan melukis kecerian didalamnya.

Ketika Harus Memilih

Ketika hati dihadapkan 2 pilihan. Dia atau dia ? Maka hamparkan sajadahmu, minta petunjuk pada pemilik hati. Jangan sampai memilih karna naf...