Setiap orang hadir di dunia membawa satu
pertanyaan besar di hidupnya. Pertanyaan yang kadang menetap ditempat yang
sama, tak pernah beranjak, tak ada jawaban. Pertanyaan yang kadang membuat diri
layaknya patung, hanya
menatap kosong hamparan samudra luas, tapi tabiatnya sebuah jalan buntu selalu
saja ada jalan keluar. Setiap pertanyaan selalu berakhir dengan sebuah jawaban,
meski terkadang kehidupan mengajarkan untuk tidak melihat sesuatu dari satu
sisi. Boleh jadi ada banyak jawaban yang
masih tersimpan rapi dari sisi-sisi lainnya, menunggu kita menemukannya. Bahkan
tak jarang jawaban itu berkeliaran diseliling kita. Di kapal Blitar Holland inilah Bonda Upe, Daeng Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng dan Gurutta membawa pertanyaan besar di hidup mereka.
Terkadang
menemukan dan kehilangan merupakan bentuk suatu jawaban atau bahkan pertanyaan.
Mungkin dalam hal lain dua komponen ini bertukar peran, terkadang kehilangan
merupakan sebuah jawaban dan menemukan adalah pertanyaannya atau malah
sebaliknya. Seperti yang dirasakan oleh Mbah Kakung setelah kehilangan kekasih
hatinya Mbah Putri yang telah
membersamainya selama 60 tahun.
Siapa yang mengira pasangan sepuh Mbah Kakung dan Mbah Putri tersebut akan
terpisah sebelum sampai di tanah suci, setelah seluruh penumpang kapal Blitar
Holland, para kelasi, kapten Philips dan dua kakak beradik –anna dan elsa- yang
selalu membuat ramai langit-langit kapal saat jam makan tiba itu tahu kalo pasagan
sepuh Mbah Kakung dan Mbah Putri adalah pasangan paling romatis yang mereka
temui. Saat tiba di pelabuhan Bengkulu, pasagan sepuh tersebut turun untuk
melihat lebih dekat betapa indahnya pasir putih yang berada disekitar pelabuhan
bengkulu. Mbah kakung dan Mbah Putri mejadi tontonan setiap penumpang yang
turun dari kapal dan penduduk asli begkulu. Bagaiamana tidak, Mbah kakung
dengan mesranya memegang tangan Mbah putri tanpa menghiraukan orang-orang yang
tersenyum haru melihat kemesraan pasangan sepuh tersebut.
Pun rindu
sering sekali mengambil peran diantara menemukan dan kehilangan. Ketika Ambo,
kelasi berkulit hitam mencoba mendustakan kenyataan dengan pergi sejauh mungkin
dari kisah cintanya yang tak berujung kepastian, tapi bagaimana mungkin ia akan
mendustakan perasaannya sedangkan kenangan masalalu masih setia menghampiri.
Bahkan setelah ia disibukkan dengan pekerjaan di kapal Blittar Holland, Ambo si
kelasi kulit hitam itu tetap saja setia duduk menatap kosong lautan lepas lewat
jendela bundar kamarnya, berharap ada sebuah jawaban. Kesibukan memang tak
dapat membuatnya pergi jauh dari kisah cintanya yang seharusnya indah, tak
menuntut apa-apa selain cinta itu sendiri. Bahkan rasa itu malah semakin
menghantuinya, membuat ia tega menyakiti dirinya sendiri.
Memaafkan
terasa menyakitkan disaat Daeng Andipati tahu masa lalu tak pernah sebaik yang ia
diharapkan, meninggalkan goresan-goresan luka yang terkadang muncul menyesakkan.
Disaat ia melihat ibunya orang yang paling ia cintai dipukul oleh ayahnya
sendiri, bahkan kakak-kakaknya yang tidak tahan lagi dengan perlakuan ayahnya,
satu persatu pergi. Ntah apa yang membuat ibunya bertahan dengan ayahnya yang
kejam, apakah cinta atau kesetian, Daeng Andipati seakan tak ingin tau.
Kebencian merasuk begitu dalam pada diri Daeng Andipati.
Begitupun
Disaat kesalahan masalalu yang seharusnya tertinggal jauh, terpudarkan waktu
dan termaafkan, nyatanya setia mengawasi Bonda Upe membuat bayang-bayang
ketakutan, menjadikan ia perempuan paruh baya yang pediam dan lebih banyak
mengurung diri di kabin. Bertemu dengan teman lamanya saat di Macao Po membuat
Bonda Upe lebih banyak mengurung diri dari biasanya. Menangis dan terus
menangis menyesali kesalahan masalalunya. Berhari-hari ia mengurung diri dan
menangis ditemani suaminya yang mencoba menenangkan, tanpa ia sadar
berhari-hari itu pula, Anna murid yang paling ia sayangi, mencoba mengartikan
sendiri kejadian apa yang telah menimpa guru mengajinya tersebut.
Bahkan
terlalu sering diri sendiri tak pernah menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Malah sebaliknya mendustakan pertanyaan tersebut, mencari jalan lain. Seperti saat
Gurutta dengan bijaknya memberikan jawaban atas pertanyaan seseorang tentang
hidup mereka. tapi ia malah terjebak dengan pertanyaannya sendiri, tak bisa
menjawab.
Tapi
kisah mereka takkan pernah sempurna tanpa kehadiran dua orang putri Daeng
Andipati –Anna dan Elsa- yang selalu membuat ramai langit-langit kapal dengan
kecerian mereka saat jam makan tiba. Anna yang selalu riang menyapa Ambo Uleng
dengan panggilan om kelasi, Elsa yang selalu saja menyikut lengan Anna kalau
sudah mulai banyak bertanya. Bahkan kapal Blitar Holland pun takkan pernah
memiliki kisah tersendiri tanpa ada Anna dan Elsa yang akan melukis kecerian
didalamnya.